........S'LaMat DaTanG, Segala Komentar yang sifatnya membangun sangat diharapkan untuk membuat blog ini menjadi lebih baik........

Jumat, September 04, 2009

Memaknai Puasa

5 comments

Orang-orang yang berpuasa sejatinya sedang melakukan wisata rohani. Tujuan akhirnya yakni menemukan jati diri. Itulah Idul Fitri. Kembali ke fitrahnya sendiri. Dari titik inilah relasi manusia dengan Tuhannya bertemu sebagaimana ungkapan kaum sufi: “man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu” (Barang siapa mengenal dirinya, dia mengenal Tuhannya). Inilah diktum kenikmatan puasa yang tiada tara.
Akan tetapi, apa yang terjadi? Rupanya, masih banyak orang yang memahami
puasa sebagai bulan pencegahan hasrat badaniah. Puasa lebih dilihat sebagai
larangan makan minum seharian, termasuk bersebadan.

Celakanya, dalam koridor seperti itu, kita terbiasa dan membiasakan sarapan
dan makan siang. Ketika jadwal makan itu diubah, perut pun terkejut. Dalam
keterkejutan seperti itu, nada dasarnya adalah lapar.

Rasa lapar seperti itu rupanya terespons oleh secara badaniah. Lantas sebagian “shoimin Atau orang yang berpuasa, lebih memilih untuk bermalas-malasan. Lihatlah masjid dan mushala pada siang hari. Di sana begitu banyak orang mengfungsikannya untuk tiduran.

Kenapa? Kalau ditanya, mungkin mereka berkilah. “Naumush shoim ibadah’. Tidurnya orang puasa itu ibadah. Memang tidak salah karena
begitulah bunyi teksnya. Namun jika itu yang menjadi pilihan, maka bulan
puasa menjadi bulan penurunan produktivitas. Jika faktanya begitu, lalu
kapan orang Islam bisa maju?

Itulah dampak kalau puasa dilihat dari sisi lahiriahnya: lapar. Lapar yang
disengaja. Rasa lapar seperti itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kepekaan
sosial. Menolong antarsesamanya. Dari sinilah Allah mengajarkan makna lapar
lewat bahasa puasa, "Mencintai Aku artinya mencintai makhluk-Ku."

Jadi, puasa adalah media Tuhan untuk mengajarkan kepada manusia untuk
tolong-menolong dalam kebajikan, bukan dalam kejahatan. Agama mengajarkan
altruisme seperti kewajiban mengeluarkan zakat fitrah. Untuk apa? Agar hidup
menjadi bermakna. Meaningfull bukan meaningless.

Ada kisah dalam Isra' Mikraj Nabi yang layak dituturkan. Dua orang lelaki,
yang satu adalah seorang ahli ibadah, terbiasa dan membiasakan
shalat dan berpuasa, tetapi menghindari bersedekah. Padahal dia orang
berpunya. Yang satu lagi boleh dikata tidak punya amalan kebaikan. Tidak
shalat, tidak pula berpuasa. Akan tetapi, pada suatu hari, orang itu memberi
minum seekor anjing yang hampir mati karena kelaparan.

Pada pengadilan akhir kelak, siapa yang dimasukkan surga? Ternyata bukan
yang ahli ibadah tapi tidak mau bersedekah, melainkan lelaki yang
menyelamatkan nyawa seekor anjing yang kelaparan. Orang itu dimasukkan surga
karena kepada seekor anjing saja, ada kepedulian, apalagi dengan sesama
insan.

Jadi, rasa lapar ketika berpuasa seharusnya menjadi bekal agar jiwa
terpanggil untuk bersedia menanggulangi kelaparan orang lain. Mengurangi
beban orang lain. Bukan sebaliknya, mempersulit orang lain.

Kalau kita berhasil menangkap pesan-pesan itu, maka bulan Puasa menjadi
bulan yang penuh keindahan dan kenikmatan. Bukan saja ketika waktu berbuka
telah tiba, tetapi juga di dalam bulan Puasa itu, pahala atas kebajikan
dilipatgandakan dan dosa-dosa terampuni. (Jamaluddin Mariadjang-Media Alkhairaat)

...Lanjutan...

Pengikut

 

Copyright 2010 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Modify Template by badrun